Lahir dari Induk Korban Jerat, Dua Anak Harimau Sumatera di Lampung Jadi Simbol Harapan Konservasi

BANDAR LAMPUNG23 Dilihat

Bandar Lampung (Journalmedia.id) – Kabar menggembirakan datang dari dunia konservasi satwa liar di Lampung. Dua anak Harimau Sumatera betina yang lahir di Taman Satwa Lembah Hijau resmi diperkenalkan kepada publik oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, Jumat (22/5/2026).

Kedua anak harimau tersebut diberi nama Puspa dan Muli Sikop. Mereka lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan Harimau Sumatera, Kyai Batua dan Sinta, yang sama-sama merupakan satwa hasil penyelamatan dari jerat liar.

Kelahiran Puspa dan Muli Sikop menjadi catatan penting dalam sejarah konservasi di Lampung. Untuk pertama kalinya, program konservasi ex-situ di provinsi ini berhasil mencatat kelahiran Harimau Sumatera, salah satu satwa paling langka dan terancam punah di Indonesia.

Nama Puspa dipilih oleh Purnama Wulan Sari Mirza, istri Gubernur Lampung. Dalam bahasa Indonesia, puspa berarti bunga yang melambangkan keindahan dan kelembutan. Sementara nama Muli Sikop diambil dari bahasa Lampung yang memiliki arti gadis cantik.

Gubernur Mirza menyampaikan rasa syukurnya atas kelahiran dua anak harimau tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa upaya pelestarian satwa liar masih memberikan harapan bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.

“Alhamdulillah, Lampung mendapatkan kabar bahagia dengan lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang sehat. Ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan bersama mampu memberikan harapan bagi kelestarian satwa langka Indonesia,” kata Mirza.

Ia menegaskan keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, hingga pengelola Taman Satwa Lembah Hijau yang selama ini terlibat dalam proses perawatan dan konservasi satwa.

Di balik kelahiran dua anak harimau itu, tersimpan kisah perjuangan yang menyentuh. Kyai Batua, induk jantan, ditemukan dalam kondisi terluka akibat jerat liar di Lampung Barat pada 2019. Luka yang dialaminya begitu parah hingga tim medis harus mengamputasi kaki kanan depannya untuk menyelamatkan nyawanya.

Nasib serupa juga dialami Sinta. Harimau betina tersebut terkena jerat di wilayah Bengkulu pada akhir 2024. Cedera berat yang dideritanya membuat kaki kanan belakangnya harus diamputasi sebelum akhirnya menjalani perawatan intensif di Lembah Hijau.

Bagi Mirza, kisah kedua induk harimau yang mampu bertahan hidup dan berkembang biak meski hanya memiliki tiga kaki menjadi simbol ketangguhan sekaligus keberhasilan konservasi satwa liar.

“Ini bukan hanya tentang kelahiran satwa, tetapi juga tentang harapan dan semangat untuk terus menjaga kekayaan alam Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman jerat liar masih menjadi persoalan serius yang mengancam satwa dilindungi. Karena itu, menjaga hutan dan habitat alami satwa harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan ancaman terbesar bagi Harimau Sumatera saat ini masih berasal dari pemasangan jerat di kawasan hutan.

Menurutnya, jerat yang dipasang untuk berburu satwa maupun mengendalikan hama seperti babi hutan tetap berpotensi mencederai satwa dilindungi.

“Jerat tidak mengenal jenis satwa. Walaupun tujuannya untuk menangkap babi hutan, jika yang terkena harimau maka dampaknya tetap sama dan sangat membahayakan,” katanya.

Satyawan menilai Lampung masih menjadi salah satu benteng penting habitat Harimau Sumatera. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran mengenai bahaya jerat liar serta pentingnya menjaga habitat satwa.

Ia menambahkan, keberhasilan konservasi pada akhirnya harus tercermin dari meningkatnya populasi Harimau Sumatera di alam liar dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem dan meminimalkan konflik antara manusia dan satwa.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Gubernur Mirza juga menyempatkan diri berinteraksi dengan Gajah Sumatera bernama Mega bersama anaknya, Rawana. Momen itu menjadi simbol pentingnya upaya pelestarian satwa endemik Sumatera yang terus didorong di Provinsi Lampung.(*)