Mitigasi Konflik Manusia dan Gajah di TNWK Capai 80 Persen

LAMPUNG TIMUR18 Dilihat

Lampung Timur (Journalmedia.id) – Upaya memperkuat mitigasi interaksi negatif antara manusia dan Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus dilakukan. Hingga September 2026, progres pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung konservasi di kawasan tersebut telah mencapai lebih dari 80 persen.

Hal itu terungkap saat Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendampingi Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni meninjau langsung perkembangan pembangunan fasilitas mitigasi di TNWK, Minggu (20/9/2026).

Kunjungan tersebut turut dihadiri Ambassador-Designate Norwegia Kaja Glomm serta Counsellor and Advisor for Climate and Forest Kedutaan Besar Norwegia.

Dalam peninjauan itu, rombongan melihat sejumlah fasilitas yang tengah dibangun maupun dikembangkan untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dan perawatan satwa. Kondisi Gajah Sumatera serta fasilitas yang disiapkan untuk mengurangi potensi konflik dengan masyarakat juga menjadi bagian dari tinjauan.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyono, mengatakan pengerjaan berbagai fasilitas ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

“Pembangunan saat ini progresnya sudah lebih dari 80 persen dan ditargetkan selesai Oktober,” kata Sriyono.

Di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG), terdapat 43 ruang lingkup pekerjaan yang mencakup pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung konservasi.

Salah satu pekerjaan utama yakni pembangunan pagar pembatas. Struktur pagar dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik kawasan, termasuk potensi banjir, serta kekuatan konstruksi agar mampu menghadapi aktivitas gajah.

Selain pagar mitigasi, pembangunan juga mencakup berbagai sarana pendukung. Di antaranya jembatan di sejumlah desa sekitar kawasan TNWK, kandang gajah jantan, dapur gajah, pusat komando penanganan konflik gajah, hingga fasilitas kesehatan.

Keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat penanganan konflik satwa liar sekaligus menjaga aktivitas masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNWK.

Pengembangan TNWK juga diarahkan tidak hanya untuk memperkuat fungsi konservasi, tetapi juga mendorong potensi wisata berbasis pelestarian lingkungan. Kawasan tersebut diharapkan mampu menjadi destinasi konservasi yang menarik wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, keberadaan Gajah Sumatera dan ekosistemnya dapat tetap terlindungi tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat di sekitar kawasan.

Pemerintah bersama pengelola TNWK dan pihak terkait juga terus memperkuat pengawasan kawasan konservasi. Masyarakat diimbau ikut menjaga kelestarian hutan dengan menghindari aktivitas perburuan liar, penambangan ilegal, maupun pembakaran lahan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga habitat Gajah Sumatera sekaligus menciptakan pola interaksi yang lebih aman antara satwa liar dan masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas.(*)